Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

2 Apr 2012


hardiananto.wordpress.com
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah  adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S Al-Baqoroh 261)
Begitu indah untaian kata dalam ayat tersebut. begitu juga kedalaman arti dan maknanya yang terkandung. Dalam surat Al-Baqoroh ayat 261, Allah memberikan ganjaran pahala yang begitu besar bagi orang-orang yang menginfakkan harta di jalan-Nya. Tidak tanggung-tanggung, Allah memberikan ganjaran pahala bagi mereka yang mau mengeluarkan hartanya dalam upaya dakwah berlipat-lipat “yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji” kemudian dipungkas dengan kalimat “Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki”. Artinya Allah memberi pahala tak terbatas bagi hambanya itu berdasar kehendak-Nya.
Jika dilihat dari struktur kalimatnya, terdapat perumpamaan yang digunakan dalam ayat tersebut. Allah mengumpamakan pemberian pahala dengan sebutir benih yang tumbuh dan berkembang. kemudian jika   kita cermati, dalam Al-quran Allah  banyak menggunakan perumpamaan dalam ayat-ayatnya. Perumpamaan itu oleh mufassir disebut dengan Tamtsil (persamaan).
Yuliadi Hendri, Mutiara Tamsil Dalam Al-Quran (2009) mengatakan bahwa dengan perumpamaan, berapa banyak makna yang asalnya baik menjadi lebih indah, menyentuh, menarik dan mempesona.  Yuliadi menambahkan bahwa tamtsil lebih mendorong jiwa untuk menerima makna yang dimaksudkan dan membuatnya merasa puas dan lebih mendalam.
Penggunaan tamtsil juga banyak digunakan oleh sastrawan, jurnalis dan orang bijak untuk memperindah dan menguatkan kalimat yang hendak disampaikan. Mereka “mempersonifikasikan” sesuatu agar kandungan makna mudah dimengerti semakin menarik dan menghujam ke jiwa. Selain itu para orator dan dai pun tidak jarang menggunakan tamstsil dalam pidato-pidatonya.
Al-quran selain sarat makna memang mempunyai gaya bahasa yang sangat menarik dan mempesona. Wajarlah jika pada masa Rosulullah banyak penyair yang berlomba lomba untuk menandingi keindahan struktur kalimat dan kedalaman makna ayat-ayat Allah tersebut, meskipun akhrinya berujung pada kegagalan.
Tamstsil adalah salah satu berkah Alquran kepada hambanya. Masih banyak kebaikan-kebaikan lain yang akan didapat jika kita mau  mentadaburi (menyelami) samudra ilmu yang tertuang dalam 114 surat tersesbut. Oleh karenanya, begitu besarnya keagungan Al-quran sudah seharusnya memotifasi umat islam bekerja keras mempeljari dan menggali makna-makna yang terkandung di dalamya. Dan, lebih subtansial lagi, agar kita dapat melaksanakan ajaran-ajarannya agar diberi ketenangan batin dan terlepas dari kesesatan berfikir.

28 Mar 2012

avivsyuhada.wordpress.com

Menghadirkan pemateri dalam sebuah acara tidak terlepas dari agenda-agenda organisasi. Kegiatan yang menghadirkan tokoh terebut biasanya untuk acara-acara besar sampai pada acara rutin yang dihadiri  rata-rata antara 15-30 peserta. Untuk acara rutin, intensitasnya pun berbeda ada yang tiga bulan sekali, bulanan, dua mingguan bahkan mingguan.
Saya tidak jarang menjadi penanggung jawab melobi pembicara untuk mengisi materi. Mulai dari tokoh daerah, propinsi dan nasional. Namun, berdasarkan pengalaman, melobi ustadz lebih sering saya lakukan dari pada melobi akademisi ataupun birokrasi. Meskipun tidak jarang posisi tersebut dipegang oleh seorang ustadz.
Alhamdulillah meskipun tokoh nasional dan tergolong sibuk tapi tidak begitu sulit menghubungi dan melobi beliau. Kadang tidak perlu menemui dengan segala syarat yang ada, bahkan dengan SMS pun beliau berkenan menjawab dan memenuhi undangan. Yang membuat saya lebih tertegun lagi, beliau tidak pernah memilih-milih agenda. Apakah itu untuk acara besar sekelas seminar nasional atau hanya sekedar kajian rutin pekanan. Insyaallah beliau akan menyanggupi asalkan tidak berhalangan dan dalam keadaan sehat. Salah satunya, pernah saya alami saat melobi ustadz Salim Afillah dalam acara malam bina iman dan taqwa (mabit) dan beliau bersedia.
Untuk biaya transportasi, jangan kaget, beliu tidak pernah menentukan harga. Beliau ikhlas menghadiri undangan murni karena ingin berdakwah. Meskipun kadang jauh antara lokasi dengan kediaman, namun hal itu tidak menjadi masalah. Itulah satu poin lagi yang membuat saya tambah kagum dengan mereka.
Pengorbanan yang dilakuakan asatidz memang luar biasa. Alhamdulillah sampai hari ini tradisi itu masih terjaga. Saya harap dan yakin kedepannya tradisi ikhlas memenuhi undangan tanpa mengharap imbalan tersebut akan tetap ada. Namun di sisi lain, sebagai pengundang atau pihak yang menhadirkan pembicara juga harus paham atas pengorbanan sang ustad.
Dengan menghadiri undangan, sang ustad telah merelakan waktu luang, waktu santai, waktu bekerja bahkan waktu bercengkerama dengan keluarga. Dengan menghadiri acara, sang ustadz telah merelakan tenaganya, merelakan rupiahnya untuk transportasi dan merelakan diri datang ke daerah terpencil untuk menyampaikan materi.
Oleh karenanya sebagai pihak yang mengundang harus memahami hal tersebut baik-baik. Meskipun beliau tidak meminta pamrih, tidak berarti seusai kegiatan kita hanya mengucapkan sepatah kata “syukron” atau “jazakumullah khoiron katsiran”. Setidaknya ada ‘materi’ yang diberikan, hal itu membuktikan kesungguhan panitia menyelenggarakan acara dan membalas kebaikan ustadz tersebut. Dengan memberikan materi, tentu saja akan melatih profesionalisme kepanitiaan dalam mengelola acara.
Secara lebih substansial lagi, cara terbaik menghormati, memuliakan dan membalas budi baik sang ustad adalah dengan menjalankan petuah yang dihujahkan ke dalam hati kita. Melaksanakan kebaikan-kebaikan yang disampaikan dalam kehidupan sehari-sehari.
 Apalah arti kita sering membuat tema menarik dan menghadirkan pembicara besar namun tidak membekas sama sekali pada diri kita. Meskipun sudah banyak mendapat asupan ruhiyah namun kondisi batin kita masih jauh dari perbuatan terpuji. Oleh karenanya, menjadi baik dan memperbaiki orang lain lah yang sebenarnya merupakan balasan dan kado terindah untuk beliau yang tak pernah lelah berdakwah.

19 Mar 2012

Minggu 18 Maret 2012 memberi hikmah tersendiri bagi saya. Tepatnya kemarin sore ketika saya beserta kader KAMMI UIN Sunan Kalijaga lain berkunjung ke salah seorang tokoh di kota Yogyakarta. Kunjungan tersebut dengan maksud untuk silaturahim tokoh dan diskusi ringan seputar organisasi dan kondisi kota jogja.
Silaturahim merupakan agenda wajib bahkan kebutuhan untuk menambah jaringan dan memperkaya wawasan keilmuan. Saya tidak hendak menjabarkan apa yang kami diskusikan namun hendak bercerita apa-apa yang kami temui dan suasana saat kami bersua tokoh yang juga anggota DPRD kota Yogyakarta tersebut. rumah beliu dari komisariat lumayan jauh, namun kami cukup beberapa kali bertanya kepada warga ketika sudah lumayan dekat dengan rumah beliu. Alhamdulillah banyak warga yang mengenal nama beliu. Jadi tidak begitu sulit menemukan tempat tinggal tokoh yang rumahnya tidak jauh dari Malioboro tersebut.
Setelah ditelusuri alamat dan penunjuk arah yang diberikan, saya sempat kaget dan tersenyum. Ternyata rumah tokoh yang terkenal dan sangat dihormati itu berada di gang sempit yang tidak dapat dilewati mobil. Rumahnya pun terlihat seperti kontrakan kecil. Kondisi di dalam ruangan sangat sederhana, hanya ada Tv lawas, meja dan kursi kayu yang sederhana, dan hijab sebagai pembatas antara ruang tamu dan tempat tidur.
Untuk tokoh sekapasitas Jogja, saya yakin sebenarnya beliau mampu membeli rumah besar lengkap dengan asesoris, kendaraan mewah dan kebutuhan tersier lain. Sah-sah saja ketika beliu bisa mencari lingkungan yang nyaman di perumahan elit atau real estate. Namun tidak bagi seorang bapak yang mempunyai tiga putra itu,ia lebih memilih tinggal bersama rakyat dan menyatu bersama mereka.   
             Saya kemudian berfikir dan melihat beberapa tokoh lain yang hidup dalam bermewah-mewahan dan bergaya parlente. Tidak usah jauh melihat tokoh nasional di senayan, tokoh daerah bahkan kampus pun sudah mulai bergaya sok kaya dan sok hebat. Dengan menggemgam blackberry dan pakaian mahal mereka tampil PeDe di hadapan publik.
 Tidak hanya asesoris yang membalut dan mengiringi kesehariannya, sikap dan perilaku seoalah mereka ingin mengatakan kepada khalayak bahwa mereka adalah orang penting, orang besar yang harus dihormati. Biasanya mereka sok menjaga image dan membatasi diri untuk bergaul dengan entitas yang tidak selevel. Ketika dihubungi dan diketemui sulit, di SMS pun tidak membalas, kalaupun membalas dengan bahasa semaunya tanpa memperhatikan apakah bahasa SMS nya baik atau tidak. Saya tidak jarang menemukan ketokohan seperti itu di ruang akademik maupun dalam masyarakat.
            Kesederhanaan seharusnya melekat pada diri seorang pemimpin. karena seorang pemimpin akan menjadi contoh bagi rakyatnya, dengan hidup sederhana tentu saja rakyat akan bangga dan mencontoh pola hidup yang tidak bermewah-mewahan. Selain itu, pemimpin hendaknya bersikap lembut, ramah dan mengayomi rakyat sehingga akan timbul kedekatan dan rasa saling menyayangi. Saya sangat menghormati pemimpin yang bersahaja dan ramah terhadap semua orang. Meskipun sibuk, ia tetap hadir memberikan pelayanan terbaik kepada semua orang. Semoga setiap pemimpin sadar bahwa kepemimpinan adalah amanah yang harus dijalankan sebaik baiknya. Dan semoga aktifis kampus memahami hal ini pula.
            Kunjungan kemarin sangat menginspirasi dan memuhasabah saya ketika kelak menjadi seorang pemimpin. menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah, kepemimpinan adalah suatu hal yang rumit. Sedikit kesalahan di mata pemimpin akan menjadi sesuatu yang besar dalam pandangan masyarakat. terimakasih ustad, terimakasih atas tauladan yang engkau semaikan pada kami.

16 Mar 2012

Beberapa hari lalu Daerah Istimewa Yogyakarta kedatangan tamu lagi, kali ini perhelatan bursa buku dan busana muslim. Acara pameran tersebut dipersembahkan kepada masyarakat Jogjakarta oleh Giant Promosindo. Pameran yang bernama Jogja Muslim Fair merupakan pameran rutin yang diadakan setiap 3-5 bulan sekali. Selain di Jogja, JMF kerap digelar di Solo dan Kebumen, Jawa Tengah.
Jauh hari sebelum pameran tersebut dimulai, salah seorang dari penyelenggara menelpon saya untuk berpartisipasi menyukseskan acara tersebut. Setelah melalui diskusi singkat, saya menyepakati untuk bergabung dalam kepanitiaan.
Ada hal luar biasa yang saya dapatkan selama tujuh hari dalam kepanitiaan. Suasana yang jarang saya temukan dalam kehidupan organisasi. Suasana luar biasa tersebut saya temukan pada pemain “belakang layar” acara yang diadakan di Gedung Wanita Tama tersebut.
Yang pertama tentang profesionalisme. Tidak disangka sebelumnya, bahwa pameran yang begitu terkenal dan besar itu hanya digerakkan oleh orang-orang yang bisa dihitung dengan jari. Mereka memainkan perannya di masing-masing bagian. Mereka sedikit, namun bekerja totalitas dan professional.
Yang kedua adalah pola koordinasi dan komunikasi. Tidak ada jaim, segan, atapun malu yang saya temui dalam komunikasi tiap EO. mereka berbincang dengan renyah, jujur dan penuh persaudaraan. Mereka bercanda, bergurau dan tidak jarang tertawa lepas di tengah kesibukan, meskipun kadang Nampak serius untuk hal-hal yang memang harus diperbincangkan dengan serius. keterbukaan itulah yang menjadikan mereka terus bertahan dalam suasana sulit. Mereka menghancurkan suasana kaku dengan hangat persaudaraan. Dari komuikasi yang jujur dan terbuka itu mereka merajut dan memaksimalkan kinerja.
Tidak semua organisasi merasakan suasana seperti itu, dalam organisasi da’wah sekalipun. Tidak jarang kita temui person-person yang Nampak jaim, senioritas dan bahkan bertingkah sok hebat di hadapan kader lain. Mereka tidak mau kalah dan disalahkan. Mereka tidak mau harga dirinya merasa direndahkan. Akibatnya, komunikasi terasa sangat kaku dan penuh dengan kebohongan.
Komunikasi hanya sekedar formalitas dan berbicara seputar job description-nya saja. Itupun dilakukan dengan penuh “pengamanan”. Harus merasa aman dari direndahkan, dianggap sebelah mata dan lainnya. Terasa kaku, sangat kaku dan bahkan lebih ektrimnya sampai tidak mau berkomunikasi karena takut.
Komunikasi yang tidak sehat tersebut tentu saja akan mempengaruhi kinerja dan menghambat laju organisasi. Jika hal itu menjangkiti semua kader, yakni kader tidak merasa nyaman bahkan tidak mau berkomunikasi dengan kader lain tentu saja akan berakibat buruk bagi organisasi. Semisal miss komunikasi, kebingungan dan akan berujung pada kader yang merasa sendiri meskipun sedang bekerja dalam amal jamai.
Dalam petualang tujuh hari tersebut, saya mendapat ilmu baru tentang komunikasi dan koordinasi. Ternyata dua hal itu merupakan sesuatu yang sangat penting untuk laju organisasi. Semoga aktivis-aktivis organisasi bisa memahami pula pentingnya dua hal itu. sehingga organisasi atau da’wah yang dibangun tidak hanya sekedar ikatan kerja yang akan selesai ketika pekerjaan itu terselesaikan. Namun lebih dari itu, dalam setiap proses bekerja kita akan menemukan arti kejujuran, keterbukaan, keceriaan, kepercayaan yang kelak akan kita gunakan dalam kerja-kerja besar berikutnya.  

19 Jan 2012


Setiap orang memang mempunyai kehidupan dan jalan hidup yang berbeda. Ada yang hidup dalam keadaan miskin, tidak punya rumah, harta bahkan keluarga. Namun ada pula yang hidup dalam kecukupan bahkan dalam kemewahan. Kehidupan yang serba ada, rumah mewah, saham dimana-mana, kendaraan nomor satu dan kemewahan hidup lain. Dua keadaan sosial itu hidup dalam lingkungan kita.
Beberapa hari yang lalu kakak saya mengirim SMS yang kira-kira kalimatnya seperti ini “Gus aku punya murid, dia yatim yatim piatu dan mempunyai tiga saudara. Kita harus bersyukur Gus ya masih punya bapak ibu”. Kakak saya adalah seorang PNS guru SD di daerah terpencil di propinsi Lampung. Tidak ada listrik dan sinyal operator seluler di sana. Kondisi masyarakatnya pun masih sederhana dan sedikit dari mereka yang mengeyang pendidikan walau hanya setaraf SMA.
Bila kita cermati cerita si anak yang tidak lagi mempunyai orang tua tersebut kita akan mendapati bahwa kehidupan mereka penuh dengan perjuangan. Di usianya yang masih kecil ia tidak lagi mendapat sentuhan kasih sayang orang tua. Di sisi lain ia dan saudara-saudaranya harus berjuang sendiri mempertahankan hidup dengan segala keterbatasan yang ada.
Namun banyak cerita yang mengisahkan kesuksesan orang-orang yang hidup dalam jerat kemiskinan. Kita pernah membaca cerita sukses Ikal dan  Arai dalam novel Laskar pelangi, cerita bocah di Cina yang harus menghidupi orang ayahnya saat berumur 10 tahun,di sisi lain ia juga harus terus berjuang menntut ilmu. dan tentu saja cerita tauladan kita SAW seorang yatim piatu, bukan dari keluarga berharta namun ia sekrang menjadi orang nomor satu sepanjang sejarah umat manusia.
saya kemudian berfikir bahwa fasilitas memang tidak menjadi jaminan seseorang dapat sukses. Fasilitas yang mencukupi malah menjadi cobaan tersendiri bagi kita, ketidak mampuan kita mengelola fasilitas malah akan mejadikan kita seseorang yang malas dan menggampangkan urusan. Makanya tidak jarang kita dapati mereka yang bekecupuan cendrung pemalas, hidupnya tidak dinamis dan mati dalam keadaan biasa saja.
  Secara lebih mendalam kita menyadari bahwa kesukesan itu adalah soal mental dan semangat meraihnya. Karena ada semangat, seseorang akan berfikir keras mencari berbagai cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Seperti yang dilakukan oleh anak-anak yang terus berjuang dalam keterbatasan. Mereka menyadari bahwa minimnya fasiliatas bukanlah menjadi penghalang mengejar cita-cita. Mereka menyadari bahwa masih banyak jalan menuju roma.  Mereka terus berjuang dan bersabar. Bersama teman-temannya mereka telah membuktikan bahwa mereka mampu lebih sukses dan layak memimpin dunia,juga memimpin anak-anak yang selalu dimanjakan oleh fasilitas mewah. Di tengah keterbatasan mereka mampu berjuang bukan hanya untuk terlepas dari kesulitan tetapi juga menorehkan tinta sejarah peradaban.

17 Jan 2012

Hari ini adalah ujian terakhir saya dalam semester ke tujuh. Ujian Akhir Semester (UAS)  merupakan tradisi akademik dalam kurikulum pendidikan di negeri kita. UAS adalah sarana yang digunakan untuk mengukur dan mengevaluasi proses pembelajaran yang sudah dienyang selama enam bulan terakhir. Dalam teorinya melalui hasil UAS pengajar atau perguruan dapat mengetahui tingkat kepahaman mahasiswa.
Namun dalam kenyataannya tidak jarang para intelektual muda itu melakukan kegiatan culas dalam UAS. Ya, mereka masih gemar menyontek atau bekerja sama dengan rekannya yang lain. Bahkan hari ini kegiatan menyontek semakin professional. Baik itu dalam strategi operasional maupun sarana yang digunakan untuk menyontek yakni dengan menggunakan Hand Phone berfasilitas  internet.
Sayangnya pihak pengawas kurang teliti dalam mengawasi jalannya ujian. Pengawas tidak tegas untuk menegur mahasiswa yang menyontek. Akibatnya tradisi saling “tolong-menolong” dalam ujian itu berlangsung secara mudah. Seorang mahasiswa tidak segan-segan mengeluarkan buku kuliahnya untuk menyalinnya ke dalam lembar jawaban. Seorang mahasiswi dengan santai browsing di internet untuk menemukan jawaban yang diinginkan. mereka melakukannya tanpa khawatir akan ditegur oleh pengawas.
Namun ada yang membuat saya bangga dengan salah satu teman sekelas. Kejadian yang membuat saya tersenyum itu terjadi ketika melihat jawaban mahasiswa yang dikumpulkan di meja pengawas. Saya yang juga hendak mengumpulkan lembar jawaban tersenyum seketika saat melihat kalimat dalam jawaban teman saya itu. “maaf pak saya lupa jawabannya” itulah kalimat yang ditulis rekan saya dalam lembar jawaban yang memang sebagiannya kosong.
Apa yang dilakukannya merupakan bentuk kejujuran akademik. Ia yang tidak bisa menjawab sebagian soal lebih memutuskan untuk menyampaikan alasan kenapa tidak bisa menjawab dan mengumpulkannya dalam lembar jawaban. Hal itu menurut saya lebih baik dari pada terus di kelas sambil menunggu contekkan dari rekannya.
Kejujuran yang dilakukan mahasiswa tersebut patut diberi apresiasi. Ditengah tradisi mencontek dan plagiasi yang menghiasi dunia intelektualitas mahasiswa, masih kita temukan secercah kejujuran. meskipun ketidak bisaannya bukanlah hal terbaik. Namun dari kejujuran dan keberaniannya akan memompa kesadarannya untuk lebih giat lagi dalam belajar. Di sisi lain sikap jujurnya akan membantu pengajar dan dosen untuk mengevaluasi hasil pembelajarannya selama ini. kejujuran dan keberaniannya patut untuk ditiru oleh semua pelajar dan akademisi.  

16 Nov 2011

Cinta merupakan fitrah manusia. Setiap diri manusia pasti ada cinta, sekecil apapun rasa itu. Energi cinta  seperti percik api yang dapat membesar dan membakar setiap yang dilewatinya.  cinta tidak hanya melekat pada mahluk karena ternyata sang khalik pun sang pencinta, seperti syair yang dilantunkan dalam lagu opick yang syahdu “Allah cinta pada orang beriman.” Itulah cinta Allah.
Dalam sejarah kepahlawanan kita akan menemui sisi lain dari jiwa mereka. Sisi lain dari kedalaman ilmunya, semangat berjuangnya, ketaatannya pada sang pemilik cinta dan keitiqomahannya menebar rahmat. Ya kita juga akan menemui mereka  sebagai seorang pencinta. Atau setidaknya mereka pernah melalui masa-masa cinta pada sisi kemanusian. Seperti cinta Rosulullah terhadap kampong halamannya. atau kisah pilu perjalanan pembaharu islam abad dua puluh Sayd Qutb.
Lantas bagaimana ketika seorang aktifis jatuh cinta?. Padahal perjuangan mereka masih jauh dari derita Rosulullah atau tidak sepadan dengan perjuangan sayd Qutb melahirkan tafsir Fii dzilalil Quran dalam jeruji besi. Tidak, tidak ada yang salah di sini, tidak ada yang salah ketika pemuda berjenggot dan wanita dengan jilbab besar itu mengalami masa-masa cinta dalam kehidupannya sebagai aktifis. Tidak ada yang salah ketika cinta tumbuh pada tataran kemanusiaan. Karena cinta adalah anugrah Allah dan karena mereka punya hak untuk mencintai.
Dalam buku Serial Cinta Anis matta beliau mengungkapkan “Sepasang aktivis itu datang menemui saya dengan mata berbinar. Binar cinta yang bersemi di mushalla kampus dan dibangku kuliah dan di arak-arakan jalanan demonstrasi untuk reformasi. Ditengah badai politik itu cinta mereka bersemi.”. intensitas bertemu dalam ruang-ruang rapat, kepanitaan dan aksi jalan menumbuhkan perasaan lain dari sisi cintanya. Selain bertambahnya rasa cinta kepada da’wah dan Allah. Muncul rasa cinta yang kita malu malu untuk mengatakannya. Ya itu wajar saja cinta bersemi diantara mereka karena intensitas bertemu dan berkomunikasi.
Di sini terjadi pertarungan, terjadi dua cinta yang bertengkar antara cinta vertikal dan cinta horizontal. Dalam kecamuk jiwa yang sedang dipenuhi dua rasa cinta. Cinta vertical mengajak kita untuk patuh dan tunduk kepada Allah serta perintah dan larangannya. Cinta horizontal berbisik kepada kita untuk mengatakan rasa hanya untuk mereka yang special.
Kita memang harus berhati-hati ketika bicara cinta horizontal karena dalam perjalannya  dapat berakhir pada kebinasaan dan Murka sang Pemilik cinta. Namun kemampuan kita mengolah cinta Horizontal akan mengantarkan para pelakunya pada satu ujung: cinta kepada Allah.
Kecintaan Allah kepada mahlukNya diuraikan dalam sebuah ayat Alquran” Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. At Taubah (9) : 71).” Inilah cara Allah menyatukan hambanya diantara cinta Horizontal dan cinta vertical. Agama yang manusiawi ini memerintahkan kepada mereka yang sedang dilanda badai cinta untuk mengakhirinya pada sebuah ikatan mulia.
Biarkan rasa cinta itu ada dalam setiap raga, biarkan perasaan itu tetap hitup. Cinta itu tidak akan kemana, dan si dia pun tidak akan kemana. Allah telah menentukan yang terbaik untuk kita.  Sambil menunggu saatnya tiba dan untuk menenagkan hati para pecinta, biarkan ayat cintaNya berbicara :Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu : Surga) (Qs. An Nuur (24) : 26).
 Semua yang telah kita rasakan kemudian kita sampaikan kepada Allah SWT melalui doa-doa.. Dalam sujud-sujud panjang dalam kesunyian kita serdoa agar Allah memberi ketenangan pada hati yang sedang gundah. Kita serahkan kepada sang penggemgam hati untuk senantiasa menjaga hati kita. Dan sekarang mari lanjutkan perjalanan cinta yang kita semaikan dalam da’wah dan  sekarang mari kita bertakbir kembali.

13 Nov 2011

Renungan Jiwa

0
Namanya BAI FANG LI. Pekerjaannya adalah seorang tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskankan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya.

Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya untuk bersekutu dengan Tuhan. Dia melalang dijalanan, di atas becaknya untuk mengantar para pelanggannya. Dan ia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam.

Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.

Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak.

Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil dimana ia biasa merebahkan tubuhnya beristirahat, diruang itu juga ia menerima tamu yang butuh bantuannya, diruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal. Ada sebuah piring seng comel yang mungkin diambilnya dari tempat sampah dimana biasa ia makan, ada sebuah tempat minum dari kaleng.

Dipojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah menjelang.

Bai Fang Li tinggal sendirian digubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia seorang pendatang. Tak ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara sedarah. Tapi nampaknya ia tak pernah merasa sendirian, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong. Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan.

Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek. Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin. Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.

Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat dipundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar dimukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.

Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ketempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu kemulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga.

Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.

“Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya” jawab anak itu.

“Orang tuamu dimana?” tanya Bai Fang Li.

“Saya tidak tahu, ayah ibu saya pemulung. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil” sahut anak itu.

Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping.

Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.

Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.

Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam delapan malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan pembeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.

Ia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmmm… tapi masih cukup bagus… gumannya senang.

Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, ditengah badai salju turun yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya.

“Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu.

Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu Rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua.

Bai Fang Li berkata “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan” katanya dengan sendu. Semua guru di sekolah itu menangis.

Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan.

Sekalipun begitu, dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesarRMB 350.000 (kurs 1300, setara 455 juta Rupiah jika tidak salah) yang dia berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin.

Foto terakhir yang orang punya mengenai dirinya adalah sebuah foto dirinya yang bertuliskan “Sebuah Cinta yang istimewa untuk seseorang yang luar biasa.”

Sahabat .. semoga kita semua mendapat hikmah besar dari cerita diatas...

Jika Sahabat ingin berbagi dengan teman-teman kalian silahkan share notes ini..

25 Okt 2011

Refleksi diri

0

Kesadaran menganal hakikat hidup membawa kita pada sebuah tanggung jawab

setelah kita melakukan rutinitas yang padat dan melalahkan ada baiknya ketika kita isi kembali hati kita dengan merenungi makna kehidupan. Membuka kembali lembaran sejarah yang telah kita lalui dan menjadikannya cermin introspeksi diri. Di usia yang terus berkurang tentu saja akan menyadarkan kita bahwa maut akan segara datang cepat atau lambat. Kesdaran itulah yang kemudian akan mengingatkan kita untuk selalu berbenah diri dalam menyambut panggilanNYa.
Rasanya baru kemarin kita dilahirkan dan melewati masa kanak-kanak yang indah penuh keceriaan. Rasanya kita masih bersama orang tua yang selalu mengingatkan kita banyak hal tentang kebaikan. Dan masih terngiang oleh kita suasana ramah dan ceria bersama kawan-kawan dalam indahnya persahabatan. Semua itu masih terasa mungkin hingga saat ini.
Namun kita harus segara terbangun dari suasana itu keluarga, sahabat, dan karir tidak jarang melenakan kita untuk meluruskan oerientasi kehidupan kita. Kita harus tersadar bahwa masih banyak kewajiban lain yang belum kita lakukan atau mungkin belum kita pahami. Dan yang sebnarnya dengan menunaikan kewajiban itulah kita disebut sebagai mahluk yang bertuhan.
Kemudian kita bertanya-tanya apa sebenarnya kewajiban kita sebagai manusia dan mahluk social. Kepada siapa tanggung jawab itu ditunaikan, dan bagaimana cara melaksanakannya. Pertanyaan-pertanyaan rumit itu akan semakin terasa manakala kita semakin sadar tentang makna kehidupan.
Dari sanalah kemudian kita menyadari bahwa kita membutuhkan petunjuk dan membutuhkan system agar setiap hela nafas kita dapat dipertanggung jawakan dihadapan sang pemilik alam. Kesadaran itu menegaskan kepada kita bahwa kita adalah mahluk social yang bertuhan.
Kemudian apa kaitannya antara refleksi diri dan tanggung jawab. Mingkin pembahasan ini agak melebar sampai pada pembahsan tanggung jawab. Namun saya memahami bahwa kedua hal tersebut mempunyai kaitan. Artinya ketika kita paham akan diri kita seetlah melakukan refleksi diri kita akan terbuka hatinya bahwa kita masih ada tanggung jawab besar dalam hidup. Tanggung jawab itu akan senantiasa dipundak kita hingga kita tiada atau terompet sangkakala berbunyi.
Allah SWT berfirman: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS Attahrim ayat 6)
Ayat tersebut mengingatkan kita untuk menjaga diri dan keluarga dari keganasan api neraka. Dengan melakukan refleksi diri kita akan memahami bahwa kita mempunyai tanggung jawab kepada keluarga bahkan kepada diri kita sendiri.
Disisi lain Tanpa mengurangi sedikitpun nilai-nilai kemulyaan yang ada di negeri tercinta ini, kita mengakui bahwa keterpurukan ruhani di negeri kita sudah sangat mengerikan dan sudah banyak berpotensi mengundang azab dari Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan azab-azab itu memang sudah berdatangan bertubi-tubi bagaikan gelombang lautan yang terus menerus bergantian menghempas pantai.
Cukuplah hal itu menyadarkan kita untuk senantiasa meluruskan niat dan memperbaiki amal. Dan kita meyakini bahwa ada kewajiban besar dalam hidup yang harus kita tunaikan.

31 Mar 2011


Sebagai manusia kita sering menginginkan mendapatkan suatu jabatan tertinggi dalam sebuah struktur lembaga. Keinginan tersebut kadang memaksa kita untuk memutar otak bagaimana caranya agar dapat menempati posisi itu. Kemudian kita akan melakukan berbagai cara agar mendaptkan posisi tersebut. mulai dari cari yang konvensional sampai pada cara yang controversial yakni melakukan kecurangan.
Jika hal di atas masih membudaya alam benak bangsa kita maka yang terjadi adalah ketidak sesuaian antara pemegang jabatan dan tugas yang di embannya. Atau mereka tidak mempunyai kapasitas untuk jabatannya. Padahal kapasitas adalah penentu dari keberhasilan sebuah jabatan.
Kapasitas adalah rangkaian atau produk komplit tentang sebuah ide besar  perubahan. ia berisi tentang visi, integritas, narasi, kredibiltas, kapabilitas dan kemampuan memimpin. Dan setiap orang mempunyai tingkat kapasitas yang berbeda. Oleh karena itu ia harus sesuai pula dengan tempatnya. Seorang mentri social akan sukses menanggulangi kasus kemiskinan misal, jika ia mempunyai kapasitas sebagai seorang mentri social. Begitu juga dengan jabatan yang lain seperti sebagai lurah, camat, direktur perusahan, rector universitas dan lain sebagainya.
Tentu saja hal yang akan terjadi ketika seorang tidak mempunyai kapasitas mengemban tugas adalah sebuah kegagalan. Kegagalan diawal dalam menyusun visi, misi dan strategi. Dalam perjalannya ia akan kehilangan kredibilitas dan integritas hingga akhirnya ia akan dihujat oleh bawahan atau rakyatnya. Dan biasanya yang dilakukan oleh pemimpin yang tak berkapasitas itu adalah bagaimana menutupi kesalahan, memolesnya dengan pencitraan hingga menggunakan tangan besi untuk membungkam rakyatnya yang melawan.
Kesalahan awal paradigma berfikirnya adalah kita tidak memahami jabatan yang diemban namun begitu menginginkannya. Oleh karena itu kita harus sadar akan peran yang akan kita mainkan. Karena bukan hanya menyangkut kemaslahatan pribadi dan golongan saja melainkan untuk masyarakat luas. Jika jika hal ini disadari maka posisi tidak sekedar jabatan yang identik dengan prilaku pragmatism tapi juga amanah yang harus dijalankan dengan totalitas dan penuh tanggung jawa.
Memahami posisi sebagai amanah akan menjadikan kita sadar dan tahu diri akan kritik atas kinerja kita. Oleh karena itu jika suatu saat pemimpin atau rakyat menginginkan kita mundur dari kursi kekuasaan maka dengan penuh lapang dada dan sifat kesatria kita akan bersedia.
Posisi sebagai amanah akan memacu kita berfikir secara objektif dan dinamis. Bagaimana caranya agar mampu berkontribusi maksimal atas amanah yang sedang di emban. Bahkan lebih dari itu dengan penuh rasa empati kita akan terus berkontribusi meskipun sudah tidak menjabat dalam suatu bidang atau kekuasaan. Karena amanah berbeda dengan jabatan. Karena amanah akan tetap ada sepanjang hayat ada atau tiadanya kita dalam suatu jabatan.