Tampilkan postingan dengan label Da'wah dan Tarbiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Da'wah dan Tarbiah. Tampilkan semua postingan

19 Mar 2012

ISTIQOMAH

0
Dari Sufyan bin 'Abdillah radhiallahu' anhu, dia berkata: aku berkata: 'wahai Rasulullah!Ucapkanlah kepadaku suatu ucapan dalam Islam yang aku tidak akan menanyakannya kepada selain engkau!, Beliau bersabda: "ucapkanlah! 'Aku telah beriman, kemudian beristiqamahlah!' ". (HRMuslim)
            Sebagai seorang muslim tentu saja kita dituntut untuk istqomah, seperti hadist di atas di mana rosulullah menegaskan Abu Sufyan bahwa istiqomah merupakan keharusan kedua setelah beriman. Dengan keistiqomahan, air yang lembut pun dapat melubangi batu cadas yang sangat keras. Istiqomah adalah bahan bakar yang akan mengantarkan hamba dalam kebaikan sampai waktu mereka habis.
            Keistiqomahan tidak hanya pada ritual-ritual ukhrawi saja, semisal sholat wajib, qiyamullail, membaca Al-quran dan puasa. Namun istiqomah juga merupakan strategi ampuh melewati banyak tantangan menuju kesempurnaan. Istiqomah menjadikan cita-cita yang dianggap tidak mungkin menjadi mungkin bahkan, ia menjadikan perjuangan serasa nikmat.
Keistiqomahan atau ketekunan berlatih setiap hari telah mengantarkan Mike Tyson menjadi seorang petinju kelas dunia. Begitu juga Leonel Messi yang  gandrung bola sejak kecil  hingga ia dinobatkan sebagai pemain bola terbaik di bumi pada tahun 2011. Dalam dunia islam, keistiqomahan yang telah menngumpal menjadi gunung optimis menjadikan Muhammad Fatih Murrad dapat berdiri sebagai sang penakhluk Konstantinopel pertama.
Kecerdasan dan keberanian akan menjadi sia-sia dan berakhir dengan keputusasaan. Itu semua terjadi karena kapasitas dan kapabilitas yang dimiliki tidak disimpan rapih dalam bungker keistiqomahan. Banyak cerita-cerita berakhirnya tokoh dunia dengan pilu lantaran ia tidak bisa mempertahankan laku baik hingga berakhir di lembah kenistaan.
Oleh karenanya kita harus mempunyai alasan kuat kenapa memilih cita-cita A, B atau C. Alasan itulah yang kemudian memacu semangat untuk terus istiqomah, untuk terus teguh dalam satu garis. Di sinilah peran agama sangat dibutuhkan, yakni memperjelas kemana arah cita-cita k dan tujuan kita.
Sebagai seorang muslim, cita-cita tidak dipahami sebatas pemenuhan kebutuhan duniawi saja, melainkan ia menembus sampai dunia yang kekal abadi yakni akhirat. Sehingga setiap perbuatan yang terorientasikan mengharap ridho Allah SWT akan menjadikan setiap proses pencapaiannya baik pula. Dengan orientasi yang jelas dan proses yang baik maka insyaallah apa yang kita citakan akan tercapai.

28 Jan 2012

Hari ini cukup istimewa bagi saya. Ada yang membuat saya merasa lebih dari hari sebelumnya. Kisah itu berawal ketika saya diajak makan bersama oleh seorang ustad muda yang memberiku banyak pelajaran setiap pekan. Ya pelajaran yang tertuang dalam lingkaran kecil yang hanya berisi beberapa orang.
Setelah dzuhur saya dan rekan-rekan diajak makan bersama di sebuah rumah makan. Tidak begitu elit memang suasana rumah makan tersebut. Menu-menunya pun harganya cukup terjangkau. Namun suasana yang melingkipunya itulah yang membuat pertemuan itu begitu berharga. Dalam rumah makan itu kami bercengkrama. 
Ustad muda tersebut membuka pembicaraan dengan mengenalkan satu persatu dari kami. Acara perkenalan itu dilakukan karena beliau bersama salah satu rekan saya membawa istrinya dalam acara pengganti pertemuan pekanan tersebut. Beliau memperkenalkan kami kepada istrinya dan kemudian memperkenalkan istrinya kepada kami.
Kita berkumpul di sini karena kita semua adalah bersaudara dank arena kita adalah keluarga”. Tutur beliau, dalam kalimat yang terucap dari tutur katanya yang lembut. Saya cukup tersentuh mendengar kalimat lembut itu. kalimat yang sederhana namun mempnuyai kedalaman makna. “kita keluarga” itulah pesan yang ditegaskan kepada kami. menegaskan bahwa kita harus hidup dalam suasana kekeluargaan, suasana kehangatan dan suasana saling menasehati.
          Usia persaudaraan kami memang jauh dari usia persaudaran sedarah. Namun efektifitas pertemuan lama kelaamaan membawa saya pada sebuah entitas baru yang begitu indah. Bukan entitas keluarga senasab ataupun entitas teman kerja dan akademik. Namun suasana yang melingkupinya bagaikan suasana harmonis keluarga. Erat ikatannya dan ada komitmen yang terus dijaga di sana. Komitmen untuk senantiasa dalam da’wah, ukhwah dan jamaah.
          Semoga ukhuwah itu senantiasa terjaga. Semoga kehangatan “satu keluarga” itu tetap mendapat limpahan rahmat dari sang Maha Penyayang. Agar ia menjadi bekal kami melanjutkan perlajanan. Perjalanan yang begitu panjang menguras tenaga. Perjalanan yang tidak pernah usai, sampai waktu kami usai. 

Sesungguhnya Engkau tahu
bahwa hati ini telah berpadu berhimpun dalam naungan cintaMu
bertemu dalam ketaatan bersatu dalam perjuangan
menegakkan syariat dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatannya kekalkanlah cintanya tunjukilah jalan-jalannya
terangilah dengan cahayamu yang tiada pernah padam
 Ya Rabbi bimbinglah kami

Lapangkanlah dada kami dengan karunia iman
dan indahnya tawakal padaMu hidupkan dengan ma'rifatMu
matikan dalam syahid di jalan Mu Engkaulah pelindung dan pembela
(Doa Robithoh)

8 Des 2011



Senin lalu rencana BPH KAMMI UIN melakukan silaturahim tokoh akhirnya terlaksana. Kunjungan yang diagendkan pukul 16.00 alhamdulillah berjalan dengan baik meskipun sempat terulur 30 menit. Kunjungan sore itu ke kediaman ustad Endri Nugraha Laksana yang jarak rumahnya tidak begitu jauh dari komisariat KAMMI UIN.. Tema silaturhim plus diskusi sore itu adalah “jamaah dan da’wah”.
                Kami yang datang berlima yakni saya, akh bayu (ketua rumpun DN), akh Samsul (Kadept, KP), ukht Ellya (Kabiro PO) dan akh Abdul (Kadept. SOSMAS) disambut ramah oleh ustad yang  sedang menjabat wakil ketua DPRD Sleman itu. saya mencoba memulai perbincangan dengan mengenalkan diri dan teman-teman. dan juga menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami yang baru kali pertama ini. satu persatu dari kami mulai memperkenalkan diri dengan bahasa renyah dan canda tawa. Maklum sang ustad juga terlihat familiar dan bisa diajak bercanda maka kami pun mencoba membuat suasana lebih rileks dengan guyonan sedapatnya.
                Ustad Nono, demikian panggilan akrabnya pun memperkenalkan diri sebelum memulai perbincangan. Jujur saya sendiri baru mengenal beliau sebatas nama, jabatan dan back ground beliau sebagai Kader PKS Jogja. Beliau juga menyampaikan tentang keluarga dan kediaman yang sedang dihuni. sembari memperkenalkan diri lebih dalam beliau ustad lima anak tersebut memulai diskusi.
                Pada awalnya kami sempat bingung dan hanya tersenyum malu karena apa yang disampaikan ustad ternyata berbeda dengan tema yang ingin kami diskusikan. Beliau tampak asyik berbicara tentang pernikahan. Teman-teman BPH yang masih lajang pun tampak tersenyum mendengar ulasan ustad. Sepertinya BPH ingin mengingatkan sang ustad untuk kembali ketema namun merasa sayang untuk meninggalkan pembahasan pernikahan ala ustad yang mempunyai sayu itu.
                Akhirnya akh bayu bertanya kepada ustad dengan maksud mengganti bahasan agar sesuai dengan tema yang diinginkan. Dan kemudian diskusipun benar-benar dimulai setelah ustad Nono mengajak kami untuk menikah diusia muda.
Karena diskusi antara kami dengan ustad mengalir begitu saja, sehingga apa yang disampaika menurut saya tidak berurutan. Namun saya mencoba menyampaiakan hasil diskusi tersebut dalam bentuk poin-point. Berdasarkan Tanya jawab antara BPH dan beliau.
Yang pertama beliau menjelaskan tentang keunggulan kalender hijriyah dibandingkan kalender masehi. Dalam kalender umat islam itu, pergantian hari dimulai ketika memasuki waktu maghrib. Jadi setelah magrib sudah memasuki hari selanjutnya. Berbeda dengan kalender masehi dimana pergantian hari dimulai setelah pukul 00.00. kalender yang dimulai sejak hijrah nabi SAW tersebut mengjak kita agar mampu berfikir futuristik. Setelah maghrib kita sudah diajak untuk memikirkan hari berikutnya. Tentu saja dimulainya waktu malam adalah waktu yang lebih kondusif untuk mulai merencanakan kegiatan. Karena waktu malam rutinitas manusia tidak seintens disiang hari.  
Kedua beliau memberikan rumus sederhana mengoptimalkan waktu. sebagai mahasiswa yang aktif dalam dunia da’wah, kita dituntut agar dapat maksimal dalam kuliah dan organisasi. Beliu menyampaikan agar dapat melakukan totalitas pada dua wilayah tersebut. “ketika sedang belajar” tutur beliau “belajarlah dengan sungguh-sungguh, dan tidak usah memikirkan agenda lain”. Beliau mengingatkan untuk fokus dalam kelas dan akademik 100%. Kemudian beliau melanjutkan “namun ketika sedang berorganisasi, maka bersungguh-sungguhlah mengerjakannya, dan tidak memikirkan hal lain”.
Ketiga, dalam peningkatan SDM atau kader. Beliau memberi contoh sederhana dalam kepanitiaan. Dalam sebuah kepanitiaan mengatur komposisi seksi atau bidang sangatlah urgen. jika komposisi dalam suatu bidang ideal maka keuntungannya adalah kepanitiaan akan berjalan dengan lancar dan kader akan lebih semangat untuk menjalankan kepanitiaan berikutnya. Misalkan untuk jabatan koordinator sie humas dapat ditempatkan orang yang belum loyal dengan da’wah. Namun kita juga menyiapkan kader yang dapat menghendel si koordinator tersebut. adanya jabatan kadang membuat orang menjadi lebih loyal terhadap da’wah. Adapun back up berfungsi agar kita dapat memastikan suatu sie dapat berjalan.
Keempat, beliau mengajak agar gerakan mahasiswa lebih cerdas menggerakkan roda organisasi maupun menyikapi isu yang beredar. KAMMI dalam hal ini selain berdemo diharapkan mampu memberikan tawaran atau ide yang ilmiah dan lebih aplikatif. Ustad Nono memberikan apresiasi kepada ikhwah KAMMI UGM yang membuat terobosan gerakan mengajar sampai mencuat di salah satu televisi swasta. Dan harapannya KAMMI UIN bisa melakukan tersebut meskipun dalam bentuk yang lain.
                Apa yang disampaikan ustad Sunono sangatlah berarti. Ilmu yang beliau sampaikan adalah berdasar pada pengamatan dan pengalamannya sebagai aktifis da’wah. diskusi terhenti karena adzan maghrib tiba. sebelum pulang ternyata Istri dari Ustad yang rumahnya sederhana itu telah menyiapkan menu berbuka, karena kunjungan kami bertepatan dengan tanggal 9 Muharam.
Terimakasih ilmunya ustad, semoga ini bisa menjadi bekal kami mengarungi belantara da’wah. dan terimakasih pula bubur kacang hijaunya. sungguh apa yang anda berikan sangat berharga bagi kami dan KAMMI.

Selasar Laboratorium Agama masjid UIN Jogja, Rabu, 7 Desemaber 2011. Pukul 17.20 WIB


               

4 Des 2011


Pada saat mata kuliah Filsafat Hukum Islam sedang berlangsung, seorang mahasiswa bertanya tentang tema yang disajikan pemakalah dengan judul "sumber-sumber Hukum islam" . Mahasiswa semester lima itu bertanya “apakah Taurat dan Injil yang merupakan kitab nabi Musa AS dan nabi Isa AS”, tanyanya setelah dipersilahkan moderator, dia melanjutkan ”bisa dijadikan sebagai salah satu sumber hukum islam?”.
Sontak suasana perkuliahan menjadi riuh dengan nada tawa dan bertanya-tanya. Pertanyaan seputar kebolehan dua kitab suci sebelum Nabi Muhammad sebagai rujukan hukum Islam itu dianggap aneh dan kontroversial. Setelah suasana sedikit mereda moderator pun menjawab “sebelumnya terimakasih atas pertanyaanya, kami tidak tahu apakah pertanyaan itu muncul hanya karena ingin mencari sensasi ataukah karena ingin mencari jawaban”. Papar moderator menyambut pertanyaan tersebut.
Beberapa mahasiswa mulai mengangkat tangan kemudian menyampaikan argumennya. Dan suasana diskusi berlangsung. Mahasiswa yang mempunyai pertanyaan tadi terus bertanya-tanya atas beberpa jawaban yang disampaikan beberapa mahasiswa lain. Sesekali ia menyampaikan bantahan dengan mengatakan “mari kita belajar objektif dengan melihat juga kitab Taurt dan Injil, sehingga kita juga bisa mengetahui apakah kitab tersebut benar atau tidak, saya yakin ada banyak kebenaran dalam dua kitab tersebut”. Namun semua jawaban atas pertanyaan mahasiswa tadi tertuju pada satu kalimat “tidak bisa!!”. Mereka mejawab Tidak bisa kitab tersebut menjadi rujukan atau seumber bagi hukum islam. Karena Alquran yang dibagawa oleh Muhammad SAW merupakan kitab yang sempurna dan terjaga keasliannya. Kemudian sebagai penutup membantah argument penanya “sementara Taurat dan Injil sudah tidak terjaga keasliannya dan dua kitab itu sudah tidak zamannya”. 
Jawaban-jawaban yang dipaparkan tentu saja benar. Karena argumentnya dari satu perspektif yakni ajaran agama islam dan karena semua peserta diskusi beragama Islam. Namun yang diinginkan si penanya bukanlah jawaban yang demikian, bukanlah jawaban yang disampaiakan lewat satu perspektif saja. Namun jawaban dan sanggahan yang diinginkan adalah jawaban yang bisa diterima semua orang. Jawaban yang bisa diamini oleh umat Kristen, katolik, hindu, budha. Begitu juga dengan agama dan kepercayaan lain. Bahkan seorang atheis pun dapat menerima jawaban tersebut. Ya, jawaban yang diinginkan adalah jawaban yang rasional, jawaban yang bisa dipahami oleh akal manusia. Dan keinginan tersebut tidak muncul dari setiap jawaban yang terlontar.
Kesulitan memberikan jawaban rasional bukan hanya menjadi masalah bagi peserta diskusi di ruangan 10 X 12 M persegi tersebut. bisa jadi sebagian besar umat muslim sedunia juga mengalami kesulitan untuk menjelaskan bahwa Al-quran adalah kitab yang benar dan untuk semua umat manusia. Dan itulah sebabnya meskipun umat islam banyak dari segi kuantitas tetapi lemah dalam kualitas.
Pertanyaan tersebut memacu dan menguji keyakinan dan pemahan kita tentang kebenaran dan keaslian Al-Quran. Kita dituntut tidak hanya meyakini Al-quran tetapi juga mampu menyampaikan kebenarannya kepada dunia yang dihuni beragam agama. Bahkan lebih dari itu pertanyaan yang menggugah itu  mengajak kita untuk membuktikan kebenaran kitab Suci nabi terakhir itu dengan sebuah bukti nyata bukan sekedar wacana dan orasi. Wallahualam bissowab.

19 Nov 2011

PENYAKIT HATI

0

 (disampaikan oleh ust. Agus Sudrajat dalam materi kedua mabit)
Alhamdulillah wa solawat ila rosulllah solallahualaihiwasalam…
Ihwah fillah rohimakumullah berbicara penyakit-penyakit dalam da’wah sebenarnya bisa kita temui dalam materi “yang berjatuhan dalam da’wah”. Da’wah ini dipegang oleh sekumpulan manusia bukan sekumpulan malaikat. Karna kita bukan malaikat, maka dalam da’wah kita akan menemui perasaan lemah, lesu dan futur dan hal itu dianggap wajar. Namun kita memiliki kesiapan untuk mengobatinya. Rasa futur itu diantara lain:
Yang pertama adalah kefuturan dalam aqidah yakni adanya pergeseran dalam orientasi hidup. Ketika kita diamanahi pada jabatan besar seperti bupati, gubernur bahkan president maka ini dapat menyebabkan bergesernya orientasi hidup. Ketika mendapat jabatan, kadang ada tujuan-tujuan lain selaindari pada allah swt. Kita akan bergerak dan berda’wah hanya karena ada si A dan lain sebagainya.
Yang kedua adalah futur dalam dimensi ibadah. Hal ini terjadi karena lemahnya mutabaah yaumiyah. Oleh karenanya kita harus memutabaah diri kita sampai pada hal-hal yang kecil dan mungkin dianggap sepele. Mutabaah adalah kegiatan yang harus terus dibudayakan dalam gerakan kita. Bisa jadi seorang kader yang kuat pengorbanannya dalam medan juang namun lemah dalam ubudiyah maka ia akan mengalami kefuturan.
Yang ketiga adalah kefuturan dalam fikriyah. Kita sekarang sudah agak sulit menemui diskusi-diskusi yang dilakukan para ikhwah. Oleh karenanya minimnya tradisi membaca, diskusi dan menelaah
Dapat yang menyebabkan kefuturan.

hal-hal yang dapat menyebabkan kefuturan:
yang pertama yakni Berlebihan dalam agama. Biasanya ini terjadi di akhir bulan ramadhan ketika seorang kader bersemngat mengejar “setoran”. Akhirnya hal itu menyebabkan rasa lelah dan bosan.
Yang kedua adalah berlebihan dalam hal-hal yang mubah. Mubah adalah sesuatu yang dibolehkan dalam syariat seperti makan, minum, dan lain sebagainya. Namun hal itu bisa menjadi makruh dan bahkan mungkin haram, jika hal itu dilakukan secara berlebihan. Dan hal itu akan menyebabkan kefuturan.
Yang ketiga penyebab future adalah melepaskan diri dari jamaah. Dia memilih sendiri dan tidak mau bergabung dalam agenda-agenda jamaah seperti mabit, dauroh dan lain sebagainya. Bahkan yang lebih parah adalah ia tidak mau bergabung dalam da’wah. Oleh karenanya jangan sekali-sekali meninggalkan jamaah. Karena lebih baik berkumpul pada orang-orang biasa saja dari pada merasa pintar sehingga memutuskan untuk sendiri saja.
Yang keempat adalah sedikit mengingat akhirat, Sedikit dzikrul maut. Sedikit dari kita yang mengingat mati.
Yang kelima adalah melalaikan amalan siang dan malam. Maksudnya kita selalu disibukkan dengan agenda-agenda rapat sampai kita merasa cape dimalam hari dan lupa untuk melakukan ibadah.
Yang keenam adalah masuknya barang haram dalam perut kita. Jangan sampai kita membudayakan kebiasaan mengambil barang orang lain tanpa izin. Terkadang kita meminjam buku dengan akad satu minggu akan dikembalikan namun sampai satu tahun tidak kunjung dikembalikan. Atau dalam kepanitiaan ketika menggunakan barang umum.
Yang ketujuh tidak menyiapkan diri untuk menerima tantangan. Ketika kita mempunyai target tapi kemudian dalam perjalanan mengalami banyak tantangan malah menyebabkan kita lemah dan futur. Tantangan itu pasti akan datang oleh karenanya kita harus senantiasa bersiap.

Obat-obat atau cara mgataso kefuturan
1.       Tadzkiyatunnafs, makanya kita harus menjauhi kemaksiatan. Seperti pada era digital ini kadang penggunaan media digunakana untuk hal-hal yang lain. Seperti penggunaan face book atau HP secara berlebihan.
2.       Meningkatkan nutrisi otak
3.       Mengintai waktu-waktu yang baik. Seperti menyempatkan diri mengikuti mabit. Meskipun dalam keadaan sulit. Tapi mari kita paksa untuk mabit, tilawah, qiyamullail dan amalan lainnya.
4.       Melazimi jamaah atau terbiasa hidup berjamaah. Jangan biasa menyalahkan jamaah atau menyalah setiap personal dalam jamah. Namun mari kita mengevaluasi diri dan terus bekerja
Mari kita lalui jalan da’wah ini dengan penuh kesabaran. Terus istiqomah dalam kebaikan. Dan jangan sampai kita terpental ataupun terlempar dari jalan da’wah ini.

Di akhir tausiyah ustad, Agus Purnomo menyampaikan bahwa istri beliu telah menjadi staf ahli bidang kontrak di kementrian sosial. Alhamdulillahirobbil alamin…… 
Masjid Alfalah Gendeng, 20 Nov 2011. Pukul 05.15

MAKNA UKHUWAH

0
MAKNA UKHUWAH
(disampaikan oleh ustad Arfiyansah dalam mabit
semua pengurus ikhwan KAMMI UIN SUKA)
Alhamdulillah amma ba’du . . .
Kedatangan kita kemari adalah untuk memikirkan sesuat yang besar. Kita datang kemari untuk satu tujuan yakni Alla SWT.  bahwa kita datang kemari untuk mengikuti sunnah rosulullah SAW.
Sebelum kita mulai, mari kita saling senyum dan bersalaman kepada teman di samping kita. Dalam perjalanan hidup kita, mungkin kita akan menemui orang yang kita anggap menjengkelkan, tapi ketika kita menimbangnya dengan kebaikan-kebaikannya maka kita akan menemui bahwa kebaikannya akan jauh lebih banyak.       
Kalimat ikhwan, ikhwah dan akh itu mempunyai perbedaan. Jikalau akh itu adalah persaudaraan karena nasab kalau ikhwan itu bentuk jamak dari akh, namun ikhwah lebih luas dari pada saudara senasab. Ikhwah adalah persaudaraan karena keimanan.
Dalam Al-quran Allah SWT berfirman “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat” (al-hujarat ayat 10).
Pertama bahwa kita adalah bersaudara dan kita harus menyatukan saudara kita yang sedang bertikai. Untuk mendamaikan perselisihan itu maka kita harus mengingat kebaikannya dan menutupi aibnya. Dalam sebuah hadis disampaikan bahwa barang siapa membuka aib saudaranya di depan umum maka Allah akan membuka aibnya sebelum dia meninggal. Begitulah pentingnya ukhuwah untuk menyambung persaudaraan sehingga menjadi komunitas.
Setiap orang pasti mempunyai perbedaan, begitu juga dalam kehidupan berorganisasi kita akan menemui banyak perbedaan. Jikalau kita bertikai dalam sebuah organisasi itu hal yang biasa kecuali ketika pertikaian itu menjadikan kita berpecah maka itulah musibah. Allah SWT dalam ayat suci alquran melarang kita membuka air orang lain.
Beruntunglah orang yang selalu disibukkan dengan aib sendiri dari pada ia sibuk dengan melihat aib orang lain”. Kemudian Allah SWT juga berfirman “wala talmidzu anfusakum”  jangan kamu menghina dirimu sendiri dan jangan memanggil orang lain dengan sebutan yang buruk. Dalam siroh, Bilal pernah bertanya ketika melihat Rosulullah SAW sujud begitu lama. Kemudian Rosulullah saw bersabada bahwa 1 diantara 3 doanya tidak dikabulkan oleh Allah SWT. Doa tersebut yakni tentang permintaan beliau agar umatnya tidak mengalami perpecahan.
Jangan berharap kita mendapat pujian dari orang lain, Karena Allah SWT selalu melihat perbuatan kita. Ketika kita menjadi ketua, koordinator ataupun anggota sesungguhnya kita telah menempati posisi yang strategis. Yang perlu kita lakukan adalah memaksimalkan amanah-amanah yang diemban.  Maka teruslah bekerja dan jangan pernah mengharap pujian dari orang lain.
Hari ini kita tidak bisa melihat amalan  kita, namun ketika allah swt membuka catatan amal kita maka kita akan tercengan. Dalam suatu riwayat pernah ada orang yang biasa-biasa saja namun ketika dihisab ia mendapat pahala yang besar. Ia mendapat pahala seorang ulama meskipun dia bukan ulama, ia mendapat pahala pemimpin yang berhasil memajukan pemerintahan menjadi sejahtera padahal dia bukan pemimpin negara. Semua itu terjadi karena dia telah mendidik seseorang menjadi ulama, mendidik seseorang menjadi pepmimpin yang baik, dan mendidik banyak orang lainnya.
Allah SWT melarang kita untuk tidak banyak bersangka-sangka. Bisa saja ketika kita melihat salah seorang teman kita tidak hadir dalam suatu  rapat maka ulama mengajarkan untuk memberi  alasan-alasan baik kenapa orang tersebut tidak datang. Sebagai seorang muslim harus tetap khusnudzon tetapi harus diberangi dengan waspada. Artinya ketika dia tidak hadir maka kita harus bertabayun atas ketidak hadirannya. Jika ada kegiatan lain yang lebih bermanfaat, kita harus support, jika ia lalai ingatkan. Karena Allah SWT juga melarang kita untuk membicarakan aibnya.
Jika dalam sebuah organisasi terdapat permasalahan maka musyawarahkanlah baik-baik. Bila terjadi ketimpangan dalam wilayah kerja maka coba setiap koordinator bertemu dengan staf-stafnya dan mengevaluasi diri dan kemudian melakukan islah atau Melakukan perbaikan.
Hal penting yang haru diingat bahwasannya tidak semua anggota organisasi mengetahui setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemimpin. Atau pembicaraan pemimpin dan petinggi-petingginya. Ini adalah kode etik dalam sebuah organisasi atau pemerintahan, ada hal-hal yang bukan konsumsi publik. Sebagaimana Rosulullah ketika akan melakukan fathu mekkah beliau hanya membicarakannya dengan aisyah dan tidak membicarakannya kepada yang lain termasuk Abu Bakar. Dan hal itu bukanlah suatu aib atau dosa namun ia adalah etika.
Dan dalam kisah fathu mekkah itu ketika pasukan sudah siap maka Rosulullah kemudian menyampaikan kepada khalayak ramai bahwa beliau akan berniat menyerang mekkah. Begitu juga dalam organisasi mungkin ada rahasia yang tidak bisa dibeberkan kepada siapapun sampai datang pada waktunya.
Untuk meningkatkan kualitas dalam jamaah maka ada empat hal yang harus diperhatikan yakni:
1.      Jaga lisan dan jaga perbuatan
2.      Jaga baik sangka namun tetap baik sangka
3.      Jagalah hak-hak mereka
4.      Jaga sikap saling menghormati.
Hal-hal yang perlu dihindari diantara lain:
1.      Jangan buruk sangka dan  jangan sampai membunuh karakter
2.      Jangka mendzolimi orang lain atau saudara-saudara kita
3.      Hindari dendam kepada saudara kita
4.      Hindari memberi amanah yang tidak bisa dipanggul oleh bawahannya.
Rosulullah meminta agar menebar salam. Salam yang dimaksud bukan sekedar mengucapkan salam biasa yang kadang tidak berisi. Namun salam yang disampaikan dengan ikhlas . tanyakan bagaimana keadaanyya, keluarganya dan lain sebagainya.
Wallahualam bissowab….  
 Sebelum menutup taujihnya, ustad yang pernah menunutut ilmu di Libya itu  meminta kepada seluruh peserta mabit ikhwan untuk mentadabburi ayat-ayat yakni:
1.      Al hasr ayat 18
2.      At taubah ayat 46
3.      Maksimalisasi  surat al-ankabut ayat 69
4.      Dan buahnya adalah surat Fusilat ayat 30
Masjid Al-falah Gendeng, 19 Nov 2011

22 Mei 2011

AMAL JAMAI

0
hidup sebagai seorang manusia merupakan suatu kehrmatan. Alhamdulillah Allah SWT. Menciptakan kita sebagai manusia dan bukan menciptakan kita dalam bentuk yang lain. Kita tidak tercipta dalam bentuk kucing, anjing, sapi, atau kutu-kutu  pada semut yang begitu kecil bentuknya.
kondisi kita sebagai manusia merupakan anugerah dari Allah SWT. Karena dalam diri manusia terdapat potensi-potensi yang luar biasa besar. dan potensi tersebut harus dioptimalkan. Bukan malah minder karena perawakan tubuh kita yang beraneka ragam. Missal Allah SWT menciptkan kita dengan hidung yang pesek, kulit tubuh berwarna hitam, mempunyai ukuran tubuh yang pendek dan lain sebagainya. Kita tidak usah memusingkan hal-hal fisik tersebut karena bukan merupakan ukuran.
Kelebihan dan potensi yang kita miliki harus dikelola dengan baik. Dan cara mengoptimalkan potensi-potensi itu adalah dengan melakukan kerja-kerja jamaah atau amal jamai atau time work. Allah SWT juga menjelaskan tentang pentingnya amal jamai. Dan Rosulullah SAW mewanti-wanti dengan sabdanya ”sesungguhnya syaitan itu bersama orang-orang yang sendirian”. Artinya hal itu menjelaskan kepada kit atentang pentingnya amal jamai.
Keuntugan yang dapat diperoleh dari amal jamai antara lain:
1.      Dengan amal jamai kita akan memperleh koreksi dari orang lain. Seperti dengan bagaimana  kelakuan kita, pola fikir kita dan kesalahan-kesalahan lain yang kita tidak menyadarinya. Di sisi lain dengan adanay amal jamai maka saudara-saudara kita akan menutupi kekurangan yang melekat pada diri kita.
2.      Membagi potensi dibidang masing-masing.
3.      Memperoleh pengalaman-pengalaman baru. Dengan berjamaah maka kia akan memperoleh pengetahuan tentang pengalaman-pengalaman orang lain yang dapat diambil pelajaran.
4.      Membuka jalan untuk mendapat banyak pahala. Seperti pahala sabar. Mengapa demikian, karena dalam syuro terdapat orang-orang dengan karakter yang berbeda. Dan ketika kita menemui perbedaan maka kesabaran kita akan diuji. Selain itu dalam suasana syuro kita akan berada dalam lingkup suasana saling menasehati. Dan pahal-pahala tadi akan didapat jika dilakukan dengan niat yang ikhlas.
5.      Memperoleh pertolongan dari Allah SWT. Rosulullah SAW bersabda “pertololongan Allah bersama jamaah”.

Langkah-langkah dalam amal jamai:
1.      Khusnudzon. Untuk menjaga keharmonisan dalam shaft da’wah maka menjaga sikap khusnudzon harus tetap dijaga. Karena kemunduran gerak da’wah akan terkadi jika sesama aktifis da’wah saling berburuk sangka. Missal ketika dalam suatu syuro ada salah seorang anggota yang tidak menghadirinya. Dan ketika disms tidak dibalas begitu juga ketika ditelpon tidak diangkat. Jika kita tidak menjaga khusnudzon maka akan muncul beribu prasangka yang bersifat negative. Namun apa bila kita khusnudzon maka kita akan beranggapan bahwa mungkin saja al-akh tersebut sedang rusak Hp nya, Hp nya hilang, atau dia sedang sakit dan lain sebagainya yang menyebabkan ia tidak mungkin hadir. Artinya khusnudzon akan membentuk prasangka kita terhadap alasan yang bersifat positif.
2.      Cinta kepada sesame
3.      Menyembunyika rasa tidak suka. Dalam suasana amal jamai mungkin saja kita menemui orang-orang yang tidak mempunyai kecocokan dengan kita karena perbedaan kepribadian. Rosulullah SAW bersabda “ruh-ruh itu seperti pasukan Allah, apabila dia cocok maka ia akan bergabung, tapi ada juga yang tidak cocok”. Namun sikap bijak kita akan menyembunyikan ketidak cocokan tersebut.
4.      Saling mendoakan
5.      Mengakui bahwa kita perlu kepada saudara kita.
6.      Benci kalau saudara kita tertimpa musibah
7.      Saling menolong.
8.      Memudahkan hal-hal yang sulit.


Kutipan ceramah yang disampaikan ust. Ahmad Dahlan
By: Agus Purnomo

18 Mei 2011


Kita sudah banyak mendengar tentang bagaimana gerakan konspirasi yahudi bekerja. Atau setidaknya mengetahui bahwa yahudi melakukan konspirasi melalui gerakan zionis internasional. Sebuah gerakan raksasa yang kekuatannya mencengkram hampir disetiap Negara di dunia tak terkecuali Indonesia. Umat islam menyebut Konspirasi ini sebgai bentuk perang pemikiran (ghozwul Fikri).
Secara sederhana kita dapat  mengetahui peredaan antara ghozwul fikri dan qital (perang fisik). Dalam perang fisik bahan bakar utamanya adalah fisik yang kuat dan senjata yang ampuh, semisal pedang, tombak, belati dan perisai. Ia lebih membutuhkan kerja otot dari pada kerja otak. Namun berbeda dengan perang pemikiran, ia tidak begitu banyak meyedot kerja otot dan kebutuhan akan senjata, ia lebih menyerap kemampuan otak atau daya fikir dalam merebut kemenangan.
Jenis perang yang kedua ini lebih membahayakan dan lebih menimbulkan efek yang luar biasa besar dari pada perang fisik. Dan jenis perang inilah yang digunakan oleh Negara-negara besar yakni ameriaka dan Israel. Dalam definisi yang disebut perang pemikiran itu  mereka memainkan media, mengarahkan opini, menyebarkan propaganda, mengatur pola berfikir manusia, bermain dalam konflik, mengatur Negara-negara lain dan menyeting masa depan sesui dengan apa yang mereka kehendaki. Dengan cara itu mereka mampu mengusai dunia hingga saat ini.
Kemudian kita yang memproklamirkan diri sebagai penegak kebenaran dan pemusnah kebatilan sudah seharusnya melakukan hal yang sama. atau melakukan “apa yang dilakuakan yahudi”, dan ini adalah tuntutan jika seorang muslim ingin bertahan dan menyerang keangkuhan kedua kaum barbar-barbar tersebut.
Hal tersebut harus dimulai dari perubahan cara berfikir kita. Jika sejak dulu kita berfikir bagaimana gerakan da’wah bisa tetap eksis maka sekarang kita harus berfikir bagaimana gerakan da’wah mampu berkontribusi. Jika dahulu kita berfikir bagaimana menyeting sebuah acara atau kepanitiaan maka sekarang kita harus berfikir bagaimana mengatur pola berfikir, opini, dan keberpihakan masyarakat terhadap da’wah. Jika dulu kita berfikir bagaimana kantong-kantong keuangan kita tercukupi maka hari ini kita harus berfikir bagaimana kantong-kantong keuangan kita melimpah dan mempu memproduksi kerja-kerja da’wah dalam skala global. dan secara umum kita harus mengembangkan kemampuan berfikir dari yang bersifat depensive (bertahan) menuju ekspansive (berkembang).
Kemudian setelah kita memahami akan hal ini, maka kita akan menularkan paradigama berfikir ini kepada semua pekerja da’wah. Kepada mereka yang berada di kota dan di desa, di sekolah dan di kantor, dan di dalam negeri maupun diluar negeri.  Sehingga meskipun mereka melakukan kerja-kerja kecil dan mungkin dianggap sepele namun sebenarnya para pewaris peradaban itu mempunyai kerangkan berfikir yang sistematis dan tujuan yang jelas.
Itulah kerja da’wah yang sebearnya, bukan hanya mampu menggerakkan mesin tetapi juga mampu menggerakkan orang-orang cerdas. Kemudian bekerja sama dalam sebuah gerakan internasional. Membuat kebijakan yang mempunyai bargaining position dimata dunia. Hanya dengan itulah insyaAllah kemuliaan Islam kembali menetap dibumi.
18 Mei 2011-05-18
00.11