Tampilkan postingan dengan label Artikel Lepas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Lepas. Tampilkan semua postingan

22 Apr 2012


Ada yang menarik ketika lagu “genjer-genjer” ciptaan M. Arief muncul dan berkembang dikalangan masyarakat Indonesia tahun 1942. Lagu yang liriknya merupakan kritik sosial terhadap penjajahan imperealisme Belanda itu Dianggap berbau Partai Komunis Indonesia (PKI). Berikut adalah lirik lagu genjer-genjer yang sempat poluler dikalangan masyarakat pada saat itu:

Genjer-Genjer
eks PKI. beritaaneh.com
Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Emak'e thole teko-teko mbubuti genjer
Emak'e thole teko-teko mbubuti genjer
Ulih sak tenong mungkur sedhot sing tolah-toleh
Genjer-genjer saiki wis digowo mulih
Genjer-genjer esuk-esuk didol ning pasar
Genjer-genjer esuk-esuk didol ning pasar
Dijejer-jejer diuntingi podho didhasar
Dijejer-jejer diuntingi podho didhasar
Emak'e jebeng podho tuku nggowo welasah
Genjer-genjer saiki wis arep diolah
Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak
Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak
Setengah mateng dientas yo dienggo iwak
Setengah mateng dientas yo dienggo iwak
Sego sak piring sambel jeruk ring pelonco
Genjer-genjer dipangan musuhe sego
Terjemahan Bahasa Indonesia
Genjer-genjer di petak sawah berhamparan
Genjer-genjer di petak sawah berhamparan
Ibu si bocah datang memunguti genjer
Ibu si bocah datang memunguti genjer
Dapat sebakul dia berpaling begitu saja tanpa melihat ke belakang
Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang
Genjer-genjer pagi-pagi dijual ke pasar
Genjer-genjer pagi-pagi dijual ke pasar
Ditata berjajar diikat dibeberkan di bawah
Ditata berjajar diikat dibeberkan di bawah
Ibu si gadis membeli genjer sambil membawa wadah-anyaman-bambu
Genjer-genjer sekarang akan dimasak
Genjer-genjer masuk periuk air mendidih
Genjer-genjer masuk periuk air mendidih
Setengah matang ditiriskan untuk lauk
Setengah matang ditiriskan untuk lauk
Nasi sepiring sambal jeruk di dipan
Genjer-genjer dimakan bersama nasi
(wikipedia)
Dalam perjalanannya Genjer-Genjer milik seninam angklung ini dianggap sebagai alat pendongrkak popularitas dan propaganda PKI terhadap pemerintah. Akibatnya lagu genjer-genjer dilarang perederannya. Dalam catatan pribadinya, Hasan Singodimayan, seniman HSBI dan teman akrab M Arief menuliskan bahwa lagu genjer-genjer telah dipelesetkan. Kemudian lagu tersebut berubah lirik menjadi sebagai berikut:
Jendral Jendral Nyang ibukota pating keleler
Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral
Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh
Jendral Jendral saiki wes dicekeli
Jendral Jendral isuk-isuk pada disiksa
Dijejer ditaleni dan dipelosoro
Emake Germwani, teko kabeh milu ngersoyo
Jendral Jendral maju terus dipateni
            Diplesetkannya lagu genjer-genjer menjadi legitimasi para jendral untuk melarang beredarnya lagu tersebut karena dianggap milik partai komunis. Dan, bagi siapa yang menyanyikannya dianggap sebagai antek-antek PKI kemudian diculik. Akibatnya banyak yang menjadi korban termasuk pengarang lagu genjer-genjer yang tewas terbunuh karena dianggap sebagai anggota PKI.(kaukus).
            Beberapa kali membuka lembar sejarah Bangsa Indonesia menjadikan saya semakin tertarik untuk  mengupasnya. Ditambah lagi munculnya literatur-literatur baru yang menjelaskan bahwa bukan hanya lagu genjer-genjer yang diplesetkan tetapi juga banyak sejarah Indonesia yang diplesetkan dan dikaburkan.

21 Mar 2012

MENTAL ON TIME

0
        Agar tidak datang terlambat, saya berusaha lebih awal berangkat menuju kampus. Siang itu, saya mempunyai jadwal mata kuliah yang wajib diikuti. Jam di tangan terus berputar menuju angka 13.30, saya mempercepat langkah menuju ruang kuliah yang berada di lantai teratas. Alhamdulillah sebelum jam perkuliahan dimulai saya sudah sampai di lantai empat di mana ruang kelas berada.
            Setelah menunggu lebih dari setengah jam di depan ruang kelas. Ternyata bapak dosen belum juga datang alias terlambat. Sudah beberapa kali dosen tersebut memang datang terlambat. Saya tidak tahu pasti apa yang menyebabkan dosen yang telah lanjut usia tersebut terlambat. Namun dengan pemakluman, saya dan teman-temanlain menunggu beliau datang dan menyampaikan materi kuliah.
            Keterlambatan dosen dalam memberikan mata kuliah memang bukan hal baru di kampus Universitas Islam Negeri Yogyakarta di mana saya kuliah. Korupsi waktu itu tidak jarang dilakukan oleh dosen saat akan mengajar. Selain itu, keterlambatan tidak hanya dilakukan satu atau dua dosen saja, tetapi lebih banyak dari itu. Dosen-dosen tidak on time tersebut ada di setiap jurusan dan fakultas. Meskipun saya yakin banyak juga dosen yang memegang komitmen untuk tepat waktu.
            Keterlambatan tentu saja akan mengurangi jam belajar di kelas.  Namun secara labih mendalam, keterlambatan dosen memunculkan pertanyaan akan komitmennya dalam mengajar. Bahkan lebih dari itu, seringnya terlambat mempertanyakan kembali kesungguhannya pengajar dalam memperbaiki generasi penerus bangsa. Apakah memang benar ingin memajukan pendidikan atau kah kehadirannya mengajar hanya untuk memenuhi kewajiban mengisi presensi  agar dianggap dosen rajin yang  pada akhirnya akan dinaikkan gajinya.
            Di tengah lesunya gairah pendidikan dan erosi moral akibat gerusan globalisasi, generasi muda sangat mengharapakan adanya teladan yang dapat mengeluarkan mereka dari krisis moral. Sosok tersebut tidak lain adalah pengajar atau dosen sebagai panutan dalam dunia akademik. Sosok dosen diharapkan bukan hanya memiliki kapasitas intelektual, tetapi juga memiliki standar moral yang lebih tinggi. Dari pribadi seperti itulah kemudian muncul generasi lebih baik dalam skala yang lebih besar.
      Adanya beberapa dosen yang terlambat adalah fakta yang sungguh disayangkan. Menurut saya keterlambatan bukanlah hal yang sepele, namun ia bisa jadi cerminan moral dan budaya seorang dosen bahkan budaya pendidikan di Indonesia. oleh karenanya, membudayakan datang tepat waktu saya fikir harus menjadi perhatian semua orang, khususnya akademisi sebagai simbol kaum intelektual.
            Saya tidak tahu persis kenapa dosen terlambat, khusnudzon saya mungkin karena jam terbang beliau yang tinggi, bisa disebabkan karena gaji di satu tempat kerja dinilai tidak cukup untuk  mampu memenuhi biaya hidup, sehingga mencari penghasilan lain. Namun kita tentu sudah banyak mendengar kisah-kisah super disiplin tinggi dari Negara-negar maju semisal di Negara Jepang. Masyarakatnya di Negara Sakura tersebut senantiasa berusaha keras agar dapat memenuhi janji tepat pada waktunya. Mereka berusaha sampai pada suatu tempat meskipun  hujan, sedang turun salju tebal atau bahkan cuaca dingin ekstrim,. 
            Dari dua fenomena tersebut yakni realitas masyarakat Indonesia khususnya dosen dan budaya disiplin tinggi masyarakat jepang saya menyimpulkan bahwa keterlambatan bukan dikarenakan padatnya kegiatan tetapi keterlambatan adalah soal mental. Ya, orang yang membiasakan diri menyepelekan waktu akan mempunyai mental lelet atau sering terlambat dalam keadaan sibuk maupun tidak.
Oleh karenanya agar terbangun mental on time, menepati janji, menghadiri acara dan mengisi jam belajar tepat waktu harus dibudayakan. Selain itu, agar budaya on time lebih mudah terwujud, hendaknya dosen dan tentu saja kita pribadi dapat mengatur waktu dengan apik. Dengan menejemen waktu yang baik, akan termotifasi untuk tidak menunda-nunda pekerjaan. Dengan menejemen waktu yang baik, kita tidak akan merasa kekurangan waktu.
Semoga ketepatan waktu dalam mengajar tidak dianggap remeh oleh dosen. Sehingga tercipta kegiatan mengajar mengajar kondusif yang akan memberikan kebaikan jangka panjang dalam rangka memperbaiki wajah pendidikan di Indoenesia. Tulisan ini tidak untuk menggurui bapak ibu dosen yang terhormat. Saya minta maaf jika ada yang merasa tersinggung dengan tulisan ini. Tulisan ini hanyalah unek-unek dari saya yang berlatih tepat waktu. Tulisan ini adalah ketidak sukaan saya terhadap keterlambatan, termasuk keterlambatan yang dilakukan dosen dalam memulai pelajaran.

17 Mar 2012

TITIPAN MBAK MUDAH

1

Beberapa hari yang lalu, saat pameran buku Jogja Muslim Fair digelar. Mbak Mudah meminta saya membelikan buku. Mbak Mudah yang memiliki nama lengkap Siti Mahmudah adalah kakak tertua saya yang tinggal di kabupaten Tanggamus, Lampung. Ia sudah berkeluarga dan rumahnya pun tidak jauh dari rumah orang tua kami. Keinginan membeli buku tersebut bukan sekedar untuk dibaca, sang ibunda Faiz itu berkeinginan untuk membuat perpustakaan keluarga di rumahnya. 
Rumah kami memang jauh dari perkotaan, wajar saja jika beliu meminta saya untuk membelikan buku. Karena di Jogja, di mana saya kuliah, buku-buku lebih lengkap, mudah didapat dan cenderung lebih murah. Berbeda dengan kondisi di Lampung, apalagi untuk alamat rumah kami yang jauh dari akses-akses tempat penjualan buku berkualitas.
Kehidupan yang jauh dari perkotaan memang memberikan tantangan tersendiri bagi kami, atau bagi orang-orang yang haus akan ilmu pengetahuan. Berbeda dengan kondisi kota yang serba ada, di desa tempat kami tinggal, kami harus bekerja lebih ektra untuk mendapat sesuatu. Setidaknya ada tiga hal yang menjadi kendala dalam akses kami mengembangkan wawasan keilmuan.
Yang pertama adalah akses mendapatkan literatur-literatur seperti buku, jurnal dan lain-lain. Di pasar desa kami mungkin memang menjual buku, tapi sangat sedikit buku-buku yang kami cari. Buku yang dijual biasanya buku-buku umum dan itupun terbatas sekedar buku-buku sekolah untuk tingkat SD, SMP dan SMA. Oleh karena itu dalam pemenuhan literatur pengethuan sosial maupun islam, mau tidak mau kami harus ke kota atau menitip kepada teman atau saudara untuk membelikan buku. Selain itu, kami tentu tidak tahu buku-buku yang bagus kecuali ada yang memberi tahu atau melihat milik teman yang sudah memiliki.
Yang kedua adalah teman untuk sharing pengetahuan atau tokoh yang mempunyai kapasitas untuk mendiskusikan suatu permasalahan. Di desa kami, kebanyakan pemuda maksimal adalah lulusan SMA atau sekolah kejuruan. Maaf bukan bermaksud mendiskreditkan, saya yakin mereka pun punya banyak pengetahuan. Namun untuk bicara kondisi sosial kekinian tentu tidak sepadan jika dibandindkan dengan tokoh yang berkapasitas.  Berbeda dengan di kota atau dalam lingkungan kampus yang dengan mudah menemui akademisi dan praktisi yang mumpuni untuk mendiskusikan sesuatu.
Yang ketiga adalah akses informasi. Sebenarnya Alhamdulillah juga, di desa kami ada satu warnet dan itupun milik mbak Mudah. Namun akses internetnya sangat lemah, sangat sulit untuk hunting artikel, apa lagi untuk mengunduh buku, jurnal atau ceramah-ceramah. Untuk media informasi lain, TV lah yang paling representatif. Namun media audio visual itupun hanya bisa untuk chanel-chanel Tv Hiburan saja. Untuk stasiun yang menyajikan berita sulit didapatkan.
Ketiga alasan itu cukup menjadi tantangan bagi kami, hal itu pula yang kadang membuat saya berfikir keras apabila kelak pulang ke kampung halaman. saya akan dihadapkan pada sulitnya mendapati buku, tokoh yang mumpuni dan akses informasi. Hal itu tentu saja memberikan harapan.
Harapan agar pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan dan meningkatkan semangat baca dikabupaten saya. Mengadakan taman baca atau toko buku besar yang menyediakan beraneka ragam buku dan lain-lain. Selain itu, untuk memperoleh akses pengetahuan, pemerintah seharusnya menggagas sebuah tatanan yang memudahkan masyarakat mengakses informasi dalam skala nasional maupun global. Dengan meningkatkan kualitas pendidikan, tentu saja akan memberikan dampak positif jangka panjang, Yakni meningkatnya kualitas kehidupan masyarakat.
Ditengah carut marutnya tatanan sosial Negara kita. Memperhatikan kualitas pendidikan seharunya menjadi program utama pemerintah. Karena dengan pendidikan , Negara tidak hanya mampu melepaskan masyarakat dari kebodohan, tetapi juga memberikan kontribusi bagi peradan yang mulai terseok-seok.
Peningkatan mutu pendidikan bukan hanya pada sektor pendidikan formal seperti pada perguruan tinggi saja. Tetapi hal itu harus dilakukan dari kehidupan realitas, dari kehidupan masyarakat. Seorang petani, pedagang, nelayan dan buruh harus melek pengetahuan. Mereka harus paham media, berita terkini dan situasi sosial yang menjadikannya miskin. Meniingkatkan mutu pendidikan bagi masyarakat memang belum menjadi perhatian pemerintah. Semoga dengan melihat realitas yang ada, pemerintah terutama pemerintah kabupaten kami sadar betul untuk menggarap upaya mencerdaskan semua lapisan masyarakat.

28 Feb 2012

wikipedia.com
Kita tentu tidak asing lagi dengan kata advokat atau pengacara. Maraknya kasus perdata maupun pidana yang tersiar di media kerap menyebut nama advokat dalam proses hukumnya. Para pelaku maupun korban biasanya menggandeng advokat untuk menyelamatkan atau memenagkan kepentingannya di meja hijau. Sebutlah nama M. Nazarudin, terdakwa korupsi Wisma Atlet, Melinda Dee dan lain-lain yang menggunakan jasa advokat untuk meloloskan mereka dari jerat hukum atau setidaknya meringankan beban hukuman. Dalam hal ini advokat akan bekerja sekuat tenaga dengan dalil hukum untuk membantu klieannya.
Jasa advokat tidak hanya digunakan untuk kasus-kasus besar saja, kasus ringan dan sedang pun tidak jarang menggunakan jasa tersebut. karena adanya advokat bukan pada jenis perkaranya, tetapi pada kemampuan pihak yang bersangkutan untuk menyewa jasa advokat.

Definisi Advokat
Advokat berasal dari kata “Advocaat” berasal dari bahasa latin yaitu “advocatus” yang berarti pembela ahli hukum dalam perkara, dalam atau di luar pengadilan. Advokat adalah seorang ahli hukum yang memberikan bantuan atau pertolongan dalam soal-soal hukum.

Setelah berlakunya UU nomor 18 tahun 2003 tentang advokat, sebutan bagi seseorang yang berprofesi memberikan bantuan hukum secara swasta – yang semula terdiri dari berbagai sebutan, seperti advokat, pengacara, konsultan hukum, penasihat hukum – adalah "advokat".
Dalam dunia advokasi di Indonesia, terdapat tokoh-tokoh advokat yang sudah tidak asing lagi namanya. Yang pertama adalah Ruhut Sitompul, siapa yang tidak kenal namanya, mulai dari kalangan hukum, politisi, sampai masyarakat awam pun mengenalnya. Pasalnya Ruhut tidak hanya melanglang buana didunia advokasi saja, ia juga aktif dalam dunia politik bahkan ia juga dulunya seorang artis yang terkenal dengan nama Si Poltak Raja Minyak dari Medan. Selain itu ketenaran Ruhut juga akibat dari kelakar dan keonarannya dalam perpolitikan Indonesia.
Yang kedua adalah Hotman Paris Hutapea, pengacara parlente ini sering membentengi artis-artis papan atas yang terkena kasus hukum. Ia pun sempat digosipkan dekat dengan artis kawakan Meriam Belina. Belakangan ini ia menjadi ‘oli’ untuk memuluskan M. Nazarudin melewati setiap persidangan dengan lancar. Terdapat nama-nama lain yang tidak kalah terkenal seperti O C Kaligis, Elza Syarif, Adnan Buyung Nasution, M. Assegaf dan lain-lain. Para advokat pun tidak bekerja sendiri, mereka membentuk organisasi semisal seperti Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) atau Asosiasi Advokat Indonesia (AAI).

Wajah Advokat di Indonesia

Maraknya ketidakadilan di negeri ini tentu saja mengoyak hati nurani untuk bangkit melawan. Ketidak adilan yang menimpa semua lapisan masyarakat selalu tersaji di meja informasi. Si pencuri sandal yang dituntut hukuman berat, begitu juga penggusuran yang kian marak akibat pengaruh kapitalisme yang menyengsarakan rakyat kecil. Semua persoalan itu harus mendapat pertolongan sebelum harapan dan nyawanya hilang.
Hal ini tentu saja menjadi tanggung jawab tersendiri bagi advokat untuk menyuarakan kebenaran dengan bahasa yang paling legal yakni bahasa hukum. Advokat yang mempunyai amanah membela korban ketidakadilan sangat dinanti sepak terjangnya . Namun sayang, advokat juga manusia. Tidak semua advokat berhati malaikat, meskipun juga tidak semua advokat berhati setan.
Dalam dunia advokat terdapat istilah white lawyers dan black lawyers. White lawyers adalah istilah untuk advokat yang menjung tinggi idealismenya dalam berprofesi. Mereka senantiasa di garis rakyat dan habis-habisan memperjuangkan kebenaran. Sebaliknya  terdapat juga Black Lawyers, ia adalah sebutan untuk advokat-advokat nakal yang bermain dalam kubangan pragmatisme. Mereka siap mengadvokasi tiap permasalahan dan membela siapapun yang berani membayar uang dengan jumlah yang besar. Meraka adalah gambaran dari sebuah semboyan “maju tak gentar membela yang bayar”. Kini maraknya kelakuan dan pemberitaan dari tingkah laku advokat nakal telah memperburuk citranya di mata masyarakat.
Maka tidak heran jika kemudian muncul stigma buruk dari masyarakat kepada profesi advokat dan pelakunya. Advokat dicap sebagai pembela yang bayar dan selalu bersilat lidah untuk memangkan suatu perkara yang sebenarnya yang dibela jelas salah. Sungguh ironis, ketika masyarakat menjerit meminta keadilan, pejuang kebenaran malah bertingkah culas beselingkuh dengan peguasa dan bersikap ABS (Asal Bapak senang).

Advokat Untuk Rakyat
Tugas advokat memang berat, advokat yang secara spesifik white lawyers harus berhadapan dengan musuh internal dan eksternal. Secara internal mereka harus melawan musuh dalam selimut yang setiap saat dapat menelikung dalam gelap. Di satu sisi mereka harus berhadapan dengan penguasa yang mempunyai banyak cara untuk menghantam dan membunuh karakter bahkan nyawanya.
Di tengah carut marutnya tatanan dan penegakan hukum di Indonesia dan ketidak adilan yang menimpa rakyat, siapapun pasti menunggu hadirnya sosok yang berani menjawab keresahan publik tersebut. Publik merindui individu yang berani bertarung habis-habisan melawan kedholiman penguasa. Berani membantu mereka yang di Mesuji, Bima dan Papua. Berani mengusir konglomerat yang menguras uang sakyat dan memenjarakan penguasa yang berkhianat. Tegas mengatakan kebenaran, setia memperjuangkan kepentingan rakyat, dan senantiasa menjunjung tinggi idealismenya memegang amanah sebagai advokat. semoga fenomena ketidak adilan yang menggelayuti masyrakat dan stigma wajah advokat di Indonesia dapat menyadarkan dan memotivasi mereka untuk berbuat lebih baik untuk rakyat.

26 Feb 2012

SENI BERKAWAN

0
 “anda bisa mendapat lebih banyak kawan dalam waktu dua bulan dengan dengan cara tertarik pada orang lain dibandingkan dengan yang anda bisa peroleh dalam waktu dua tahun dengan cara dengan cara mengusahakan orang lain tertarik pada anda” terang Dale Carniege dalam bukunya how to win friends and influence people (1981). Sebagai mahluk sosial tentu kita tidak terlepas dari interaksi antar individu dan kelompok. Baik itu dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan material, spiritual maupun emosional.    
            Dalam harinya setiap orang pasti melakukan komunikasi. Mulai dari bangun tidur sampai ia tidur kembali. Para pakar komunikasi menyatakan terdapat fungsi komunikasi yang berbeda-beda. Thomas M. Scheidel mengemukakan bahwa kita berkomunikasi terutama untuk menyatakan dan mendukung identitas diri, untuk membangun kontak sosial dengan orang disekitar kita, dan untuk mempengaruhi orang lain untuk merasa, berpikir, atau berperilaku seperti yang kita inginkan. Namun menurut scheidel tujuan dasar kita berkomunikasi adalah untuk mengendalikan lingkungan fisik dan psikologis kita.
            Dalam proses komunikasi, tentu saja banyak kendala yang kita hadapi. Keterbtasan  kemampuan kita dalam berkomunikasi akan menyebabkan tersendatnya kehidupan akademik dan karir kita. Seorang siswa bisa dijauhi teman-teman belajarnya akibat tersinggung dengan ucapan-ucapannya yang ketus, tidak bersahabat dan membosankan. Begitu juga seorang karyawan dalam suatu perusahaan, ia bisa saja dipecat dari pekerjaanya karena ketidak mampuannya menjaga lisan. Dan tentu saja kita pernah mengalami hal tersebut, yakni gagal dalam melakukan komunikasi dalam suatu pertemuan atau moment. Hal tersebut bisa terjadi seperti apa yang dikatakan Dale yakni karena kita lebih memaksa orang lain untuk memahami diri sendiri bukan sebaliknya.
            Suatu pesan dapat diterima dan mendapat umpan balik bergantung dari cara kita menyampaikan pesan tersebut. Membangun persepsi diri untuk tertarik kepada orang lain  berupa penghargaan dan penghormatan kita kepada lawan bicara adalah cara efektif agar pesan dapat tersampaikan dan mendapat respon positif. Dengan berkata santun, tidak memotong pembicaraan, dan memperhatikan pembicaraannya sepenuh hati maka lawan bicara kita akan merasa sangat dihargai dan dihormati.
            Penyampaian pesan secara efektif tentu saja sangat diperlukan terutama oleh mereka yang aktif dalam organisasi sosial. Intensitas berkomunikasi dan berkoordinasi lebih rentang terjadinya kesalahan membangun komunikasi. Oleh karenanya seorang organisator atau aktifis harus lebih menguasai seni berkawan agar ia semakin dicintai dan dan dihargai dalam organisasinya. Tidak hanya untuk pribadi, kemampuan seorang aktifis dalam berkomunikasi juga akan berimabas kepada jalannya roda organisasi lebih kokoh secara internal maupun eksternal.

13 Nov 2011



Sekitar pukul 13.00 WIB tadi (12 November 11) ketika saya  membaca harian KOMPAS, datang seorang pemuda berambut gondrong ke Komisariat KAMMI tempat dimana saya tinggal. saya yang sedang membaca Koran sambil minum segelas air Es mempersilahkan orang tersebut untuk masuk. setelah memperkenalkan nama, ia mngutarakan maksud dan tujuannya datang ke komsisariat. Ternyata ia hendak meminjamkan buku kepada teman satu tempat tinggal saya. Mas bambang begitu saya memanggilnya adalah mahasiswa UII yang ternyata aktif juga dalam pergerakan mahasiswa. Sambil menunggu temanku, kami berdua mulai berdiskusi seputar gerakan mahasiswa.   
Universitas Islam Indonesia (UII) tempatnya mengenyang pendidikan mempunyai iklim gerakan mahasiswa tersendiri. Beliau memaparkan bahwa di sana bercokol rezim mahasiswa yang sudah lama menduduki jabatan Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM). Terlena oleh kekuasaan pemerintahan mahasiswa yang merupakan representasi gerakan itu mulai mandul dalam membuat kebijakan dan tidak aspiratif. Bahkan ajang pemilihan umum mahasiswa yang diselenggarakan berubah menjadi kompetisi perebutan kekuasaan antar golongan dan merekapun tidak kuasa lagi menarik minat mahasiswa untuk bersama mengikuti pesta demokrasi tersebut.
                Fenomena diatas sebenarnya menjadi evaluasi besar bagi setiap gerakan mahasiswa baik yang berkuasa ataupun tidak. Mahasiswa yang seharusnya merupakan symbol kaum idealis telah berubah menjadi segerombolan kaum pragmatis yang haus akan kekuasaan. Mahasiswa yang seharusnya meneriakkan keadialan dan kebenaran kini tanpa sadar telah melakukan penghianatan.
                Kemudian kita berfikir bagaimana kelak ketika mereka sudah lulus kuliah dan menduduki jabatan-jabatang strategis dalam masyarakat dan pemerintah. Saya fikir mereka dapat bertindak lebih bejat dari apa yang telah diperbuat birokrat saat ini.
Begitulah repotnya ketika anak muda mendapat kekuasaan,  pola fikir yang belum matang kerap membuatnya bertindak sporadis. apa lagi dalam rangka mempertahankan kekuasan maka berbagai cara akan difatwakan halal untuk dilaksanakan. dan akibatnya kekuasaan tersebut menjadikan mereka berfikir elitis dan tidak lagi berbicara kaderisasi.
Oleh karenanya saya fikir gerakan mahasiswa harus menata ulang paradigma berfikir secara radikal. Pragmatism kekuasaan dan sikap elitis telah memunculkan benih-benih kehancuran pada tubuh gerakan mahasiwa. Untuk meluruskan kembali asholah gerakan diantaranya dengan menggarap secara serius kaderisasi. Karena kaderisasi adalah tulang punggung gerakan. Lewat kaderisasi kader-kader akan dilatih tentang kebenaran, keberanian, dan idealism.
Yang kedua secara eksternal gerakan mahasiswa harus mempunyai sikap dan pandangan yang jelas. Menempatkan gerakan pada posisi ekstra parlementer adalah pilihan tepat agar gerakan tetap murni, utuh dan independent. Politik ektraparlemter secara praksis akan membawa gerakan pada sikap netral tanpa tunggangan elit politik.
Secara umum gerakan mahasiswa saat ini harus meluruskan kembali perannya sebagai pengawal reformasi, pengawal setiap kebijakan pemerintah, lantang meneriakkan kebaneran dikala pemerintah melakukan pengkhianatan terhadap rakyat. Hingga Kemudian independensinya akan mendidik mereka agar mempunyai gagasan segar dan aplikatif. gagasan yang muda beda dan berbahaya.
  
  

28 Jan 2011

pendekar baru KPK

0

Beberapa hari yang lalu Busyro Mukoddas dilantik menjadi ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Setelah menunggu waktu yang panjang, akhirnya pria asal Jogjakarta itu terpilih juga. Ia menggantikan posisi yang sebelumnya dijabat oleh Antasari dan dua pimpinan KPK Bibit Samad Riyanto dan M Hamzah.
Riwayat hidup Busyro Muqoddas ternyata tidak terlepas dari kehidupan berorganisasi. Ia pernah menjadi anggota majelis permusyawaratan Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (MPM UII). selepas kuliah ia juga pernah menjabat direktur lembaga konsultasi dan bantuan hukum fakultas hukum UII. dan jabatan terakhir sebelum menjadi ketua KPK adalah ketua merangkap anggota Komisi yudisial RI periode 2005-2010 M.
Tugas Busyro Muqodas kini semakin berat. Dengan menjabat ketua KPK ia harus bekerja keras mati-matian menumpas kasus korupsi di ondonesia.  Bagaimana tidak, Korupsi telah menjadi masalah terbesar di Indonesia. Dan kini wabah korupsi tidak saja menjangkiti para pejabat tinggi, tetapi juga telah marambah ke pajabat-pejabat kelurahan bahkan setingkat RT dan RW. Para koruptor pun telah terputus urat malunya dalam menggasak uang rakyat.
KPK diharapkan sebagai garda terdepan sekaligus benteng terakhir dalam penumpasan tindak pidana korupsi. Disaat masyarakat tengah bosan dan tidak percaya atas kinerja pemerintah yang mandul dalam penanganan korupsi, KPK diharapkan mampu membuktikan eksistensinya. Memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dengan keberhasilannya menyeret para koruptor ke Bui.
Walaupun masa jabatannya yang hanya satu tahun. Tetapi diharapkan sepak terjangnya melebihi waktu yang diberikan. Oleh karena itu setidaknya ketegasan dan keberanian harus melekat pada pemimpin komisi pemberantasan korupsi tersebut. Pimpinan KPK harus tegas karena pencuri uang rakyat itu berani merogoh koceknya untuk menyuap saksi, polisi, kejaksaan bahkan KPK itu sendiri. Selain itu para koruptor juga yang sudah menjalar kesemua institusi. Oleh karenanya Ketegasan diperlukan untuk memastikan apakah sebuah institusi terjangkit kasus korupsi atau tidak. langkah yang berani juga diperlukan.  Pasalnya, selain dengan cara halus koruptor pun tidak segan menggunakan cara-cara kasar untuk menutup-menutupi kesalahannya dan sangat mungkin sekali pimpinan KPK menjadi korbannya. Seperti yang telah menimpa dua pimpinan KPK sebelumnya yakni Bibit Samad Riyanto dan M Hamzah, mungkin saja itu hasil konspirasi gila koruptor yang ada di Senayan.
Selamat berjuang pak pendekar.....